
BANGKA SELATAN — Dugaan penyelundupan sekitar 6 ton Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi jenis solar di wilayah perairan Sadai kini menjadi perhatian serius masyarakat Bangka Selatan. Kasus yang tengah ditangani aparat penegak hukum itu perlahan mulai membuka dugaan adanya permainan distribusi BBM subsidi yang diduga berlangsung secara terorganisir.
Perkara tersebut mencuat setelah Tim Tipidsus Satreskrim dari Polres Bangka Selatan mengamankan KM Usaha Mulia 17 GT di kawasan Dermaga Penutuk. Dari hasil pemeriksaan di lapangan, aparat menemukan ribuan liter solar subsidi yang dikemas dalam drum dan jerigen berbagai ukuran.
Pengungkapan itu langsung memicu reaksi masyarakat pesisir, khususnya para nelayan kecil di wilayah Sadai dan Pulau Pongok. Pasalnya, dalam beberapa waktu terakhir nelayan mengaku kesulitan memperoleh solar subsidi untuk melaut, sementara aparat justru menemukan pengangkutan BBM subsidi dalam jumlah besar.“Nelayan kecil sering mengeluh solar kosong. Kadang harus menunggu lama untuk dapat jatah. Tapi anehnya bisa ada pengiriman sampai berton-ton,” ungkap salah satu warga pesisir yang meminta namanya tidak disebutkan.
Kondisi tersebut membuat masyarakat mulai mempertanyakan sistem distribusi BBM subsidi di wilayah Bangka Selatan. Dugaan publik kini mengarah pada kemungkinan adanya kebocoran distribusi dari SPBN Celagen Pulau Pongok yang seharusnya diperuntukkan bagi kebutuhan nelayan kecil.
Dalam perkembangan kasus tersebut, nama Haji RHMN kini ramai diperbincangkan masyarakat. Sosok tersebut disebut-sebut memiliki kaitan dengan distribusi solar subsidi yang kini tengah diselidiki aparat penegak hukum.
Tak hanya itu, perhatian publik juga tertuju kepada salah satu anak Haji RHMN yang diketahui merupakan oknum anggota dewan dari daerah pemilihan Lepar Pongok, Kabupaten Bangka Selatan.
Informasi tersebut semakin menjadi pembicaraan masyarakat setelah kasus dugaan penyelundupan solar subsidi berkembang luas.Meski demikian, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari aparat penegak hukum terkait dugaan keterlibatan pihak-pihak yang disebut masyarakat tersebut. Namun warga meminta agar penyidikan dilakukan secara terbuka dan tidak berhenti pada pelaku lapangan semata.“Kalau memang serius memberantas mafia solar subsidi, jangan cuma yang di bawah diproses. Harus diusut siapa yang mengatur distribusi dan aliran barangnya,” ujar warga lainnya.
Masyarakat menilai pengangkutan solar subsidi hingga mencapai sekitar 6 ton tidak mungkin berjalan tanpa adanya jaringan distribusi yang tersusun rapi. Karena itu, publik mendesak aparat untuk menelusuri seluruh rantai distribusi BBM subsidi, mulai dari asal pengambilan, jalur penyaluran, hingga pihak yang diduga mengendalikan pasokan solar tersebut.
Selain meminta penegakan hukum secara menyeluruh, masyarakat juga mendesak pemerintah dan instansi terkait melakukan audit terhadap distribusi BBM subsidi di SPBN kawasan Pulau Pongok dan Sadai. Warga berharap solar subsidi benar-benar disalurkan kepada nelayan kecil dan tidak disalahgunakan demi keuntungan pribadi.Kasus dugaan penyelundupan solar subsidi ini kini menjadi sorotan luas masyarakat Bangka Selatan.
Publik menunggu langkah tegas aparat dalam mengungkap seluruh pihak yang diduga terlibat, termasuk membongkar kemungkinan adanya jaringan mafia BBM subsidi yang bermain di balik pengangkutan solar dalam jumlah besar tersebut.
Hingga berita ini diterbitkan, proses penyidikan dan pengembangan perkara dugaan penyelundupan solar subsidi di wilayah perairan Sadai masih terus berlangsung.(Citra)
