
TOBOALI, BANGKA SELATAN — Dua nama yang disebut-sebut sebagai kolektor pasir timah di wilayah Kecamatan Tukak Sadai, Kabupaten Bangka Selatan, kini menjadi sorotan. Sapar, yang disebut beralamat di Desa Terap, dan Habib, yang disebut beralamat di Desa Parit 2, diduga memiliki keterkaitan dengan satu sosok yang disebut sebagai bos di Pangkalpinang.
Informasi yang diterima awak media menyebutkan, keduanya diduga menjalankan aktivitas sebagai kolektor dengan adanya satu pihak di Pangkalpinang yang disebut berada di belakang aktivitas perdagangan tersebut.
Jika informasi tersebut benar, muncul pertanyaan yang lebih besar: siapa sebenarnya sosok di Pangkalpinang yang disebut menjadi bos Sapar dan Habib?Sebab, dalam mata rantai perdagangan pasir timah, posisi kolektor di lapangan bukan selalu menjadi titik akhir.
Ada kemungkinan terdapat pihak lain yang berperan dalam penyediaan modal, penampungan, penentuan harga maupun distribusi pasir timah.Karena itu, keberadaan sosok yang disebut sebagai bos di Pangkalpinang menjadi bagian penting yang perlu diperjelas, terutama untuk mengetahui bagaimana alur perdagangan timah dari wilayah Tukak Sadai hingga ke luar daerah.
Namun demikian, informasi mengenai hubungan antara Sapar, Habib dan sosok di Pangkalpinang tersebut masih berupa dugaan dan memerlukan verifikasi lebih lanjut.Awak media juga masih berupaya meminta konfirmasi kepada Sapar dan Habib terkait dugaan tersebut, termasuk mengenai siapa pihak yang disebut sebagai bos mereka di Pangkalpinang.
Apabila benar terdapat satu pihak yang mengendalikan atau membiayai aktivitas keduanya, publik tentu berhak mengetahui siapa sosok tersebut dan bagaimana bentuk keterlibatannya.
Kini pertanyaannya bukan hanya siapa kolektor yang berada di lapangan, tetapi siapa sosok di belakang mereka yang disebut berada di Pangkalpinang.Hingga berita ini diterbitkan, belum diperoleh keterangan resmi dari pihak-pihak yang disebutkan dalam informasi tersebut.(Citra)
