
Penulis: Fenti, S.H.Mahasiswa Magister Hukum Universitas Bangka Belitung (UBB)
Politik Hukum Kebebasan BerpendapatKebebasan berpendapat merupakan salah satu pondasi utama dalam Negara demokrasi dan Negara hukum sebagaimana pikiran yang bukan sekedar hak untuk berbicara melainkan juga instrumen Masyarakat dalam mengawasi jalannya kekuasaan yang dijaminkan oleh Pasal 28E Ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berbunyi :“Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat”Namun dalam realitas politik hukum saat ini, kebebasan berpendapat masih menjadi persoalan yang menarik untuk dikaji.
Pertanyaannya sederhana Apakah Negara benar-benar memberikan ruang bagi Masyarakat untuk menyampaikan kritik atau justru kritik masih dipandang sebagai sesuatu yang mengganggu stabilitas kekuasaan ?Dari perspektif Penulis, persoalan ini tidak cukup dilihat melalui pendekatan normatif semata tetapi juga harus dibedah dari aspek implementasi hukum dan praktik demokrasi sebab hukum seharusnya menjadi pelindung kebebasan bukan menjadi instrumen yang mempersempit ruang partisipasi Masyarakat.
Ala Strategi Kuda Troya Dalam Gerakan MahasiswaMenarik untuk membaca Ala Strategi Kuda Troya sebagai sebuah metafora dalam pergerakan Mahasiswa karena dalam sejarah, Strategi Kuda Troya yang biasa dikenal dengan istilah Trojan Horse Strategy berasal dari sejarah Yunani Kuno tentang Kuda Troya ketika pasukan Yunani menggunakan sebuah patung kuda kayu berukuran besar sebagai tipu muslihat untuk memasuki Kota Troya.
Pasukan Yunani bersembunyi di dalam kuda tersebut kemudian masuk ke dalam kota setelah kuda diterima oleh penduduk Troya. Pada malam hari, pasukan keluar dan membuka gerbang kota sehingga Troya dapat diserang.
Konteks Ala Startegi Kuda Troya dikenal sebagai strategi yang menggunakan pendekatan tidak langsung untuk memasuki ruang yang sulit dijangkau. Jika dikaitkan dengan gerakan Mahasiswa, konsep ini menyerupai Kuda Troya yang dapat dimaknai sebagai kecerdasan dalam menyampaikan gagasan kritis melalui momentum, simbol, budaya, narasi sejarah dan komunikasi publik.
Strategi Kuda Troya bukan berarti melakukan tindakan tersembunyi yang melanggar hukum apalagi menciptakan kekacauan. Strategi ini justru dapat dimaknai sebagai seni membangun kesadaran Masyarakat melalui pendekatan intelektual yang kreatif, terukur dan konstitusional.
Artinya, Mahasiswa tidak harus selalu mengandalkan kekuatan jumlah Massa untuk menyuarakan perubahan. Kekuatan argumentasi, ketajaman analisis, kemampuan membaca situasi politik dan keberanian menyampaikan kebenaran merupakan modal penting dalam membangun gerakan sebab gerakan yang besar belum tentu memiliki gagasan yang kuat tetapi gagasan yang kuat mampu menggerakkan kesadaran banyak Orang.
Penerapan Strategi Kuda Troya pernah digunakan oleh Aliansi Mahasiswa Trisakti menggunakan moda transportasi umum roda empat yaitu Angkutan Kota (Angkot) dan menanggalkan almamater sehingga dapat menerobos barikade pengamanan ketat yang sempat terhalang sekalipun izin aksi sudah dikantongi pada Momentum Sumpah Pemuda Bulan Oktober Tahun 2026 sebagaimana ingin menyuarakan Ruang Kritik di Titik Kumpul Bundaran Hotel Indonesia.
Momentum tersebut menjadi ruang refleksi bagi generasi muda untuk kembali mengingat semangat persatuan dan perjuangan kebangsaan. Dalam konteks Gerakan Mahasiswa tidak seharusnya berhenti sebagai peringatan seremonial.
Nilai perjuangan yang terkandung di dalamnya harus terus dihidupkan melalui keberanian generasi muda dalam mengawal demokrasi, memperjuangkan keadilan dan mengkritisi kebijakan publik yang dianggap tidak sesuai dengan kepentingan Masyarakat.
Jika generasi Tahun 1928 membangun persatuan melalui ikrar kebangsaan maka Mahasiswa masa kini memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan semangat tersebut melalui kekuatan pemikiran dan gerakan intelektual.Di sinilah definisi Strategi Kuda Troya menemukan relevansinya.
Momentum sejarah dapat menjadi pintu masuk untuk menyampaikan pesan yang lebih luas dan kebebasan berpendapat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari demokrasi serta tidak boleh kehilangan maknanya dalam praktik penyelenggaraan Negara.
Pada akhirnya, Politik Hukum Kebebasan Berpendapat harus ditempatkan sebagai bagian penting dalam menjaga kehidupan demokrasi Indonesia.
Strategi Kuda Troya memberikan gambaran bahwa perjuangan Mahasiswa tidak selalu harus dilakukan melalui konfrontasi tetapi juga melalui kecerdasan membaca momentum, membangun narasi dan memperkuat kesadaran publik, sebab Mahasiswa bukanlah musuh kekuasaan ketika menyampaikan sebuah kritik.
