
JAKARTA, Ancaman krisis energi global akibat konflik di Selat Hormuz memicu Pemerintah Indonesia untuk bergerak cepat. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengumumkan rencana ambisius untuk melakukan konversi besar-besaran terhadap 120 juta unit sepeda motor berbahan bakar bensin menjadi motor listrik secara bertahap.
Langkah ini diambil sebagai strategi proteksi nasional di tengah hambatan perdagangan minyak mentah dunia akibat ketegangan antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran di wilayah Timur Tengah.Konversi Jadi Solusi di Tengah Ketidakpastian GlobalMenteri Bahlil, yang juga menjabat sebagai Ketua Satgas Transisi Energi, mengungkapkan bahwa ketergantungan pada impor BBM harus segera ditekan. Program konversi ini dinilai lebih realistis untuk menyasar populasi kendaraan roda dua yang sangat besar di Indonesia.“Kendaraan bermotor kita yang 120 juta motor yang memakai bensin, kita akan coba bertahap untuk melakukan konversi ke motor listrik,” ujar Bahlil dalam keterangannya di Istana Negara, Kamis (5/3/2026).
Kabar baiknya, kemajuan teknologi membuat biaya konversi kini semakin terjangkau. Jika sebelumnya memakan biaya besar, saat ini masyarakat diprediksi hanya perlu merogoh kocek sekitar Rp 5–6 juta per unit untuk beralih ke tenaga listrik.
Dilema Fiskal: Menkeu Purbaya Hitung Defisit AnggaranMeski semangat transisi energi menguat, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan catatan mengenai pemberian insentif. Pemerintah harus berhati-hati agar kebijakan subsidi kendaraan listrik tidak memperlebar defisit APBN, terutama saat penerimaan ekspor sedang terganggu.“Kita harus hati-hati karena sekarang ada tekanan dari BBM juga. Jadi kita hitung dulu seberapa besar dampaknya ke defisit. Kalau tidak terlalu besar, bisa saja dikerjakan,” ungkap Purbaya saat acara Buka Puasa Bersama di Kantor Kemenkeu, Jumat (6/3/2026).
Keuntungan Ekonomi Bagi PenggunaBerdasarkan data Kementerian ESDM, selain ramah lingkungan, konversi ini memberikan penghematan nyata bagi kantong masyarakat:
Perbandingan Jarak: 1 liter BBM (setara 35 km) seharga Rp 13.700 (Pertamax).Konsumsi Listrik: Jarak yang sama hanya membutuhkan biaya sekitar Rp 2.400.
2.Potensi Hemat: Pengguna bisa menghemat hingga Rp 11.300 untuk setiap jarak tempuh 35 kilometer.
3 Kebijakan Kunci Menuju Transisi EnergiYayasan Kesejahteraan Berkelanjutan Indonesia (SUSTAIN) menekankan tiga hal yang harus diperkuat Satgas Percepatan
Transisi Energi:Insentif Konsisten: Memberikan kemudahan bagi energi terbarukan dan disinsentif bagi batu bara.Manufaktur Lokal: Memperkuat rantai pasok dalam negeri untuk panel surya dan baterai guna menciptakan lapangan kerja hijau.Agenda Ekonomi Daerah: Menyelaraskan transisi energi dengan kebutuhan ekonomi di tingkat desa dan daerah.
Dengan penutupan Selat Hormuz yang masih membayangi pasokan minyak dunia, akselerasi motor listrik bukan lagi sekadar tren lingkungan, melainkan kebutuhan mendesak untuk menjaga kedaulatan energi Indonesia pada tahun 2026.***


